Patung Soekarno dan kawasan monumen di Palangka Raya, difoto pada 2025.
Patung Soekarno dan kawasan monumen di Palangka Raya, difoto pada 2025.Ilham Mufti Laksono · Wikimedia Commons · CC BY-SA 4.0 · Asli
Objek wisata · Palangka Raya

Tugu Soekarno Palangka Raya

Tugu Soekarno menandai awal pembangunan Palangka Raya pada 1957. Letaknya di tepi Kahayan menjadikannya tempat singgah sejarah yang ringkas sekaligus ruang untuk melihat sungai dan memahami lahirnya ibu kota provinsi.

Titik awal pembangunan kota

Monumen ini mengenang peletakan awal pembangunan oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno, pada 17 Juli 1957. Karena itu, tugu memiliki tempat khusus dalam sejarah Palangka Raya: konteksnya adalah ibu kota yang direncanakan dan identitas provinsi, bukan seluruh sejarah permukiman yang jauh lebih tua di wilayah Kahayan. Pahami penanda ini sebagai satu bab dari kisah yang lebih luas.

Kunjungan tidak membutuhkan rangkaian atraksi yang rumit. Berhenti di monumen, baca informasi yang tersedia dan bandingkan bentuk peringatan resmi dengan aktivitas sehari-hari di tepi sungai. Pertemuan antara penanda kota dan tepian sungai yang hidup menjadi alasan berkunjung, bukan janji koleksi museum atau pertunjukan berpemandu.

Menuju taman tepi sungai

Dinas pariwisata menempatkan tugu di Jalan S. Parman, di sebelah Taman Pasuk Kameloh dan berhadapan dengan kawasan DPRD provinsi. Gunakan nama taman untuk tujuan taksi lokal dan sepakati titik penjemputan yang aman; jangan menganggap penanda peta di tepian sungai sebagai dermaga penumpang. Jembatan Kahayan dan panorama tepian sungai merupakan bagian dari lingkungan sekitarnya.

Petugas provinsi mencatat patroli di sini pada September 2026, termasuk kawasan dermaga. Catatan pemeliharaan mereka menjadi alasan untuk menilai kondisi jalur dan tempat duduk saat tiba. Jauhkan anak dari tepi air tanpa pelindung dan jangan menghalangi pengguna perahu. Perjalanan perahu memerlukan pengaturan operator, keselamatan dan kepulangan tersendiri.

Singgah singkat tanpa terburu-buru

Sediakan sekitar tiga puluh hingga enam puluh menit untuk monumen dan tepian sungai terdekat. Ini saran redaksi, bukan durasi tur tetap. Pilih siang hari untuk membaca dan mengenali tempat, atau sisakan waktu sebelum senja bila panorama sungai menjadi minat utama. Hujan dapat memengaruhi kenyamanan kunjungan luar ruang.

Untuk hari sejarah yang lebih lengkap, padukan penanda pendirian kota ini dengan Museum Balanga, dengan memeriksa jam museum secara terpisah. Keduanya menawarkan sudut penafsiran yang berbeda. Jadikan makan-minum dan perjalanan sungai sebagai pilihan tambahan; kafe sekitar bukan fasilitas yang dijamin menjadi bagian monumen.

Sumber & referensi

ppid.palangkaraya.go.id · ppid.palangkaraya.go.id

satpolpp.kalteng.go.id · satpolpp.kalteng.go.id

visit.kalteng.go.id · visit.kalteng.go.id

Laporkan koreksi